Blog EntryReruntuhan Sepanjang HalamanJul 3, '07 10:11 PM
for everyone

Reruntuhan sepanjang Halaman



`Haruskah sisi kanan mimpi menuntun ketiadaan yang sebenarnya begitu dekat dengan  hidup? Bagaimana sisi kiri mimpi ? Apakah nyata yang senyata nyatanya memang menyakitkan , seperti reruntuhan yang tertuang di sepanjang halaman………..`[ Philosophiana ]



Barisan rapat abjad tak lagi bisa mewakili rasa, tangis maya tak lagi bisa lukiskan lara mendera. Omongkosong semuanya, semu yang ada hanyalah asa berbatukan rindu.
Duhh Tuhan, kuhela napas panjangku ini. Untuk sejenak hempaskan beban dalam batin, yang dalam sedalam kecewa dan tingginya harapan yang kubangun sendiri. Fatamorgana menari nari didepan mata, menjadi santapan lezat jiwa yang kronis oleh virus kecewa. Tuhan semua ini semu, layu namun terbungkus kemunafikan yang menyakitkan, saat kenyataan terkuak perlahan............

Tuhan jiwa lara ini kubuat sendiri. Aku ingin tertawa sedih, ketika ada yang bertanya padaku, apakah yang ia rasa hanyalah semu atau memang kenyataan seutuhnya ? Bagaimana aku harus menjawabnya, sedangkan diriku tak pernah merasakan `kenyataan` seperti yang ia maksudkan ?
Pikiran dan benakku hanya berkarib dengan semu, logikaku tak sampai Tuhan...jika harus mencari cari algoritma mencari sebuah kenyataan dari lorong yang semu.
Tuhan Kau tahu segalanya, jawablah pertanyaan itu Tuhan. Aku tak bisa menjawabnya, maafkan aku.....jika semuanya tersia dan terbiar. Maafkan aku, memilih diam dengan reruntuhan sepanjang halaman.

Tuhan tangisku tak lagi terdengar. Karena dalamnya nelangsa yang bertumpuk didalam dada. Air mataku tak menetes lagi membawa kelegaan, karena telah kering di bakar panasnya cinta semu yang membuat hatiku lebam biru. Pilar gelora rasa ambruk, runtuh disepanjang halaman..........dan hanya pada Mu Tuhan, aku bertanya, apa obat sakit ini ? Apakah tak cukup kesendirian yang selama ini kunikmati ? Tak cukupkah kutepis semua mimpi semu, dan mencoba menjalani nyata di sisi kiriku ? Ajari aku Tuhan, menghalau semua cinta semu itu. Jika harus pergi, biarkan cinta semu itu berlalu dari hidupku...........

Ampunkan aku Tuhan, yang tekesan tak mensyukuri nikmat Mu. Namun Kau tahu apa yang kumaksud dan apa yang ada dalam hatiku. Saat apa yang kulakukan tak bisa membuat orang lain yakin, dan saat mereka tak dapat membaca tanda dari tindakku.....aku berharap terlepas dari rasa kecewa dan sakit hati. Saat kerapuhan menerbangkan konsentrasi dan semua menjadi berantakan, aku menyelipkan harapan bisa memandang senyum terindah yang bisa bangkitkanku dari rasa nelangsa yang mendalam dan temukan kekuatan untuk bangkit dari reruntuhan.....................
Sadar dalam hatiku, jiwaku belum tidur...namun tertimbun reruntuhan. Sadar dalam benakku....rasa lelah rindu ingin bertemu bukan lagi milikku.

Aku hanya punya rasa membara, dan aku sangat menyadarinya. Jangan biarkan lagi diriku berharap kepada selain diri Mu Ya Robbku. Biarkanlah cinta semu  berlalu dari hidupku. Jika goncangan telah menghentikan reruntuhanku, aku ingin menyusuri lorong nyataku dengan senyum. Mungkin masih tetap menyisakan reruntuhan, namun setidaknya membawa keinginan untuk bangkit dari nelangsa....
Sekarang biarkan aku menikmati reruntuhan sepanjang halaman ini. Aku masih bertahan disini, masih ingin menikmati dinginnya sepi dan luka yang masih belum kutemukan obatnya.......
Reruntuhan sepanjang halaman..........................


Jika masih ada percaya akan rasa
Ini bukan igauan, tulus ku mengucapkan

Jika semu yang kau rasakan dari sebuah kesungguhan
Takkan ada lisanku menyalahkan

Jika semua yang andai itu memang selamanya berandai
Keluarkan aku dari reruntuhan ini.........


Reruntuhan 030707

andiknurcahyo wrote on Jul 5, '07
daleeemmm....banget.
nona2na wrote on Jul 5, '07
Hiks....dalemnya sampe gak isa diukur pake meteran :D
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help