Saat lukisan wajahmu tergambar jelas dipelupuk mataku.saat aku ingin hidupkan gelora jiwaku disisi kesendirian hidupku, saat aku hanya bisa menyadari bahwa hati hanya ingin sendiri setelah kau pergi.. Saat kata-katamu dan senandungmu membuncah disela-sela sukmaku,disaat aku sepi dengan harapku dan masih ada harap menantimu..
Aku hanyalah sebuah kunang-kunang dengan redup sinarnya yang tenggelam ditengah keperkasaan malam. Aku hanyalah semanik bintang diangkasa yang terselimuti kesombongan awan kelam. Sedang dirimu adalah burung camar dengan kepak sayapnya yang merajai angkasa. Adalah gulungan ombak dipantai yang tak pernah henti di elu-elukan para nelayan sepanjang zaman. Dirimu....adalah pagi yang mempunyai kehangatan mentari dan basuh bening kelembutan sang embun.
Dan diriku bukan dirimu yang begitu punya arti...; @};---
........
Setiap kubasuh luka dari hati yang papa, selalu tergambar jelas harapan yang tak kunjung padam. Harapan yang memabukkan malam-malamku dari keterasingan. Harapan yang selalu membius kesadaran bahwa diriku tak ubahnya guguran dedaunan yang disapa derai hujan yang terus saja berharap diberikan kesempatan sekali lagi untuk bisa berfotosintesa dan berbunga...
Seperti doa siang agar bermimpi dengan sang malam ditengah peraduan mentari. Dengan senandung rembulan, yang menghanyutkan segala asa tentang impian meraih bintang. Namun sekali lagi....mimpi adalah mimpi, yang tak selamanya menjadi nyata